Di balik setiap kekerasan,
setiap kejahatan, dan setiap tindakan destruktif, terdapat sesuatu yang lebih
dalam dari sekadar dorongan agresif. Ada ketakutan yang bersembunyi, menunggu
untuk ditemukan dan dipahami. Ketakutan ini ibarat bayangan yang terus menghantui
manusia—membentuk perilaku, menciptakan bias, bahkan menjadi akar dari
penyangkalan (denial) terhadap kenyataan.
Dalam tradisi Zen
Buddhisme, tugas utama manusia bukanlah sekadar bertahan hidup atau mencapai
kesuksesan material, tetapi memahami pikirannya. Namun, memahami pikiran bukan
hanya mengenali pola pikir dan kebiasaan, tetapi juga menyadari bahwa pikiran
itu sendiri adalah ilusi. Jati diri, yang sering kita banggakan, hanyalah
konstruksi sosial dan psikologis yang terus berubah. Eckhart Tolle dalam Jetzt!Die Kraft der Gegenwart menegaskan bahwa masa lalu itu tidak ada—ia
hanyalah bayangan semata yang tidak punya objek konkret. Kesalahan dan trauma
yang kita anggap nyata sejatinya hanyalah sisa-sisa ingatan yang terus kita
beri makan.
Ketakutan sebagai Bayangan Masa Depan
Jika masa lalu hanyalah
bayangan, bagaimana dengan masa depan? Masa depan juga merupakan ilusi, suatu
ketidakpastian yang kerap mengacaukan pikiran manusia. Hinnerk Polenski dalam Hörauf zu denken, sein einfach glücklich menyatakan bahwa ketakutan terhadap
masa depan tidak memiliki realitas objektif. Ketakutan itu hanya ada di dalam
pikiran manusia, bukan sebagai entitas yang berdiri sendiri, melainkan sebagai
produk imajinasi yang liar dan tak terkendali.
Ketakutan inilah yang
sering kali menjadi pemicu gangguan psikologis seperti Avoidant Personality
Disorder (AVPD). Gangguan ini tidak sekadar berarti seseorang pemalu atau
canggung secara sosial, tetapi melibatkan perasaan penghambatan ekstrem yang
memengaruhi interaksi sosial, memperlemah kemampuan mempertahankan hubungan,
dan akhirnya menciptakan keterasingan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang
yang mengalami ini kerap kali menolak realitas dan membangun dunianya sendiri,
sebuah tempat di mana mereka tidak perlu berhadapan dengan objektivitas
permasalahan yang ada.
Denial: Realitas yang Dibantah, Kebenaran yang Tersesat
Dalam filsafat
eksistensialisme, terutama dalam pemikiran Jean-Paul Sartre, manusia sering
kali hidup dalam "kehidupan yang buruk" (mauvaise foi), yaitu
penyangkalan terhadap tanggung jawab dan kebebasan dirinya sendiri. Denial
terhadap kenyataan adalah mekanisme perlindungan diri, tetapi pada akhirnya, ia
hanya memperpanjang penderitaan. Kita lebih suka hidup dalam narasi kita
sendiri daripada menghadapi realitas yang tidak nyaman.
Di dunia sosial dan
politik, denial ini pun berbahaya. Ia menciptakan generasi yang menutup diri
dari kebenaran, memilih untuk tetap berada dalam zona nyaman daripada
menghadapi kompleksitas realitas. Maka tidak heran jika fenomena seperti echo
chamber dan confirmation bias semakin memperburuk keadaan. Seseorang
hanya mencari informasi yang mendukung keyakinannya dan menolak segala sesuatu
yang bertentangan dengannya.
Menuju Pikiran yang Merdeka
Bagaimana kita dapat
melepaskan diri dari jeratan ketakutan dan denial? Beberapa langkah dapat
dilakukan untuk membangun pikiran yang lebih terbuka dan tangguh:
1.
Perkaya Diri dengan Pengetahuan – Seorang manusia tanpa pengetahuan adalah kapal
tanpa kompas. Bacaan yang luas membuka perspektif dan membantu kita memahami
kenyataan secara lebih objektif.
2.
Banyak Membaca, Hindari Kekosongan Pikiran – Pengetahuan yang dangkal
hanya memperkuat bias, tetapi pemahaman yang mendalam melahirkan kebijaksanaan.
3.
Cari yang Tidak Diketahui Banyak Orang – Jangan hanya puas dengan informasi yang ada
di permukaan, gali lebih dalam dan pertanyakan segala sesuatu.
4.
Berbicara dengan Diri Sendiri – Mengapa kita takut akan sesuatu? Mengapa kita
menyangkal realitas? Refleksi pribadi adalah alat paling ampuh untuk memahami
diri sendiri.
5.
Pahami Asbabun Nuzul Setiap Perkara – Setiap masalah memiliki akar sejarah dan
konteks. Tanpa pemahaman ini, kita hanya akan bereaksi secara emosional tanpa
solusi nyata.
6.
Buka Pikiran terhadap Dunia Luar – Jangan menjadi katak dalam tempurung,
biasakan diri dengan pemikiran yang berbeda dari keyakinan kita sendiri.
7.
Kuasai Bidang Ilmu Anda – Seseorang yang benar-benar menguasai ilmunya
tidak mudah terombang-ambing oleh propaganda atau manipulasi informasi.
Akhirnya, kita harus menyadari bahwa ketakutan dan denial adalah dua sisi dari koin yang sama—keduanya membatasi kita untuk memahami kebenaran. Seorang manusia yang merdeka adalah mereka yang berani menghadapi realitas, berani mempertanyakan narasi yang diberikan kepadanya, dan berani hidup dengan kesadaran penuh di masa kini.
Tulisan ini hanya pendapat pribadi penulis tidak merepresentasikan pandangan hukum. Apabila terdapat masalah hukum, Info lebih lanjut Anda dapat mengirimkan ke kami persoalan Hukum Anda melalui: Link di sini. atau melalui surat eletronik kami secara langsung: lawyerpontianak@gmail.com atau langsung ke nomor kantor Hukum Eka Kurnia yang ada di sini. Terima Kasih.