Biografi Karl Popper
Karl Raimund Popper (1902–1994) adalah seorang filsuf
Austria-Inggris yang dikenal luas karena kontribusinya dalam filsafat ilmu dan
teori pengetahuan. Ia lahir di Wina, Austria, dari keluarga kelas menengah
Yahudi yang telah pindah ke Lutheranisme. Sejak muda, Popper menunjukkan
ketertarikan yang besar pada filsafat, matematika, dan fisika. Ia tumbuh dalam
lingkungan intelektual yang dipengaruhi oleh gerakan positivisme logis yang
berkembang di Wina pada awal abad ke-20.
Pada tahun 1928, Popper meraih gelar doktor dalam
bidang psikologi dari Universitas Wina, tetapi ketertarikannya lebih besar pada
epistemologi dan filsafat sains. Selama periode ini, ia mengembangkan gagasan
kritis terhadap positivisme logis, terutama tentang cara ilmu pengetahuan
berkembang.
Ketika Nazi mulai berkuasa di Eropa, Popper, yang
memiliki latar belakang Yahudi, merasa terancam dan memutuskan untuk
meninggalkan Austria. Pada tahun 1937, ia pindah ke Selandia Baru dan mengajar
di Universitas Canterbury.
Di sana, ia menulis salah satu karyanya yang paling
berpengaruh, The Open
Society and Its Enemies, yang mengkritik totalitarianisme dan mendukung
demokrasi liberal. Setelah Perang Dunia II, ia pindah ke Inggris dan mengajar
di London School of Economics, di mana ia terus mengembangkan teorinya
tentang ilmu pengetahuan dan politik.
Pokok-Pokok Pemikiran Karl Popper
Falsifikasi sebagai Kriteria Ilmiah
Salah satu gagasan paling penting yang diperkenalkan
oleh Popper adalah konsep falsifiability (falsifikabilitas). Ia
menentang pandangan kaum positivis logis yang berpendapat bahwa ilmu
pengetahuan harus didasarkan pada verifikasi empiris.
Sebaliknya, Popper berargumen bahwa sebuah teori hanya
dapat disebut ilmiah jika dapat diuji dan memiliki kemungkinan untuk dibuktikan
salah.
Sebagai contoh, teori relativitas Einstein dapat diuji
melalui observasi dan dapat dibuktikan salah jika hasil observasi tidak sesuai
dengan prediksi teori. Sebaliknya, teori-teori seperti psikoanalisis Freud atau
materialisme historis Marx dianggap oleh Popper sebagai tidak ilmiah karena
mereka tidak dapat diuji dengan cara yang memungkinkan falsifikasi.
Penolakan terhadap Induksi
Metode ilmiah tradisional sering menggunakan
pendekatan induktif, yaitu menarik kesimpulan umum berdasarkan pengamatan
spesifik. Namun, Popper menolak metode ini karena menurutnya, tidak mungkin
mencapai kepastian hanya dengan mengandalkan generalisasi dari pengalaman
terbatas.
Sebagai gantinya, ia mengusulkan metode hipotetiko-deduktif,
di mana ilmuwan membangun hipotesis berdasarkan dugaan awal, lalu mengujinya
melalui eksperimen yang bisa membuktikannya salah. Dengan kata lain, ilmu
berkembang bukan dengan mengonfirmasi teori, tetapi dengan mencoba
menyangkalnya.
Teori tentang Masyarakat Terbuka
Dalam bukunya The Open Society and Its Enemies,
Popper mengkritik pemikiran Plato, Hegel, dan Karl Marx sebagai filsuf yang
mempromosikan bentuk masyarakat yang cenderung totaliter. Ia menolak gagasan
bahwa sejarah memiliki hukum-hukum yang menentukan masa depan (historisisme),
seperti yang diajukan oleh Marx dalam teori materialisme historisnya.
Sebaliknya, Popper menekankan pentingnya masyarakat
terbuka yang memberikan kebebasan individu, transparansi, dan memungkinkan
kritik terhadap pemerintah tanpa takut represi. Baginya, masyarakat yang sehat
adalah masyarakat yang terus-menerus merevisi dan memperbaiki diri melalui
debat dan kritik rasional.
Tiga Dunia Realitas (Three Worlds Theory)
Popper mengembangkan gagasan tentang tiga dunia
realitas yang membedakan aspek fisik, mental, dan ide dalam kehidupan manusia:
-
World 1: Dunia fisik dan material yang mencakup benda-benda
nyata, seperti gunung, sungai, dan tubuh manusia.
-
World 2: Dunia kesadaran dan pengalaman mental, termasuk
emosi, pikiran, dan persepsi individu.
-
World 3: Dunia ide dan pengetahuan yang dihasilkan manusia,
seperti karya seni, ilmu pengetahuan, dan institusi sosial.
Menurut Popper, meskipun dunia ketiga terdiri dari
produk pemikiran manusia, ia memiliki eksistensi yang independen setelah
diciptakan. Misalnya, teori matematika tetap ada dan dapat dipelajari oleh
generasi mendatang meskipun penciptanya telah tiada.
Pendukung Pemikiran Karl Popper
1.
Imre Lakatos – Mengembangkan falsifikasionisme Popper dengan
konsep research programs, di mana ilmu pengetahuan berkembang dalam
rangkaian teori yang saling mendukung dan diuji.
2.
Friedrich
Hayek – Berbagi pandangan dengan
Popper dalam mendukung masyarakat terbuka dan liberalisme politik.
3.
John Eccles – Seorang ilmuwan saraf yang mengadopsi teori Three
Worlds Popper dalam studi tentang kesadaran dan hubungan antara otak dan
pikiran.
Kritik terhadap Karl Popper
1.
Thomas Kuhn – Dalam The Structure of Scientific Revolutions,
Kuhn berargumen bahwa ilmu tidak berkembang melalui falsifikasi, tetapi melalui
perubahan paradigma, di mana teori lama digantikan oleh teori baru secara
revolusioner.
2.
Paul
Feyerabend – Mengkritik
falsifikasionisme Popper dan berpendapat bahwa metode ilmiah jauh lebih
fleksibel dan bervariasi daripada yang diklaim oleh Popper.
3.
Positivisme
Logis – Menolak gagasan Popper bahwa
verifikasi tidak penting dalam ilmu pengetahuan dan tetap mendukung pendekatan
empiris sebagai dasar utama dalam pengujian teori ilmiah.
Gaya Pemikiran dan Tokoh yang Mempengaruhinya
- Immanuel Kant – Popper terinspirasi oleh kritikisme Kant,
terutama dalam konsep bahwa manusia tidak bisa mengetahui realitas
sepenuhnya, tetapi hanya bisa mendekatinya.
- Albert Einstein – Popper mengagumi pendekatan ilmiah Einstein,
yang menekankan pentingnya prediksi dan pengujian empiris.
- John Stuart Mill – Pemikiran Mill tentang kebebasan dan demokrasi
sangat mempengaruhi gagasan Popper tentang masyarakat terbuka dan
pentingnya kritik dalam sistem politik.
Karl Popper adalah salah satu filsuf ilmu terbesar
abad ke-20 yang memperkenalkan metode falsifikasionisme sebagai pendekatan
utama dalam sains. Ia menolak metode induktif dan menekankan bahwa ilmu
berkembang melalui pengujian dan kemungkinan falsifikasi, bukan melalui
verifikasi. Selain itu, ia juga memberikan kontribusi besar dalam filsafat
politik dengan gagasannya tentang masyarakat terbuka.
Meskipun banyak dipuji karena pendekatannya yang
rasional dan kritis, pemikiran Popper juga mendapat kritik, terutama dari
Thomas Kuhn yang menekankan peran paradigma dalam perubahan ilmiah, serta Paul
Feyerabend yang melihat metode ilmiah lebih fleksibel daripada yang dibayangkan
oleh Popper.
Meski demikian, warisan intelektual Popper tetap relevan hingga saat ini, terutama dalam dunia ilmu pengetahuan dan politik. Ide-idenya tentang falsifikasi dan masyarakat terbuka terus menginspirasi perdebatan akademik dan kebijakan publik di berbagai bidang.
Info lebih lanjut Anda dapat mengirimkan ke kami persoalan Hukum Anda melalui: Link di sini. atau melalui surat eletronik kami secara langsung: lawyerpontianak@gmail.com atau langsung ke nomor kantor Hukum Eka Kurnia yang ada di sini. Terima Kasih.