David Ricardo adalah salah satu individu langka yang
meraih kesuksesan besar sekaligus ketenaran yang bertahan lama. Setelah
dikeluarkan dari hak waris oleh keluarganya karena menikah di luar keyakinan
agamanya sebagai seorang Yahudi, Ricardo berhasil mengumpulkan kekayaan yang
signifikan sebagai pialang saham (a stockbroker) dan pemberi pinjaman (loan
broker).
Pada saat wafat, harta peninggalannya bernilai lebih
dari 100 juta dolar dalam nilai mata uang saat ini. Pada usia 27 (dua puluh
tujuh) tahun, setelah membaca The Wealth of Nations karya Adam Smith,
Ricardo mulai tertarik pada bidang ekonomi. Ia menulis artikel ekonomi
pertamanya pada usia 37 (tiga puluh tujuh) tahun, dan kemudian menghabiskan 14
(empat belas) tahun terakhir dalam hidupnya sebagai seorang ekonom profesional.
David Ricardo pertama kali mendapatkan perhatian di
kalangan ekonom melalui perdebatan mengenai bullion controversy. Pada
tahun 1809, ia menulis bahwa inflasi di Inggris disebabkan oleh kecenderungan Bank
of England dalam menerbitkan uang kertas secara berlebihan. Singkatnya,
Ricardo merupakan salah satu penganut awal teori kuantitas uang (the
quantity theory of money), yang saat ini dikenal sebagai monetarisme.
Dalam karyanya yang berjudul Essay
on the Influence of a Low Price of Corn on the Profits of Stock (1815), Ricardo mengemukakan apa yang
kemudian dikenal sebagai hukum hasil marjinal yang semakin menurun (law of
diminishing marginal returns). Hukum ini, yang menjadi salah satu prinsip
fundamental dalam ilmu ekonomi, menyatakan bahwa ketika sumber daya tertentu
digunakan secara tetap dalam suatu proses produksi—misalnya, ketika lebih
banyak tenaga kerja dan mesin digunakan pada lahan yang tetap luasnya—tambahan
hasil produksi yang diperoleh akan semakin berkurang.
Ricardo juga menentang Corn Laws, yaitu
kebijakan proteksionis yang membatasi impor gandum. Dalam mendukung perdagangan
bebas, ia merumuskan konsep comparative costs, yang saat ini dikenal
sebagai keunggulan komparatif (comparative advantage). Konsep
ini, yang memiliki pengaruh besar dalam teori ekonomi, menjadi dasar utama
keyakinan para ekonom terhadap manfaat perdagangan bebas (free trade).
Prinsip keunggulan komparatif menyatakan bahwa suatu negara akan lebih diuntungkan jika mengimpor barang yang dapat diperoleh dengan biaya lebih rendah dari negara lain, dibandingkan dengan memproduksi barang tersebut secara domestik. Sebagai ilustrasi, misalkan negara Poorland dapat memproduksi satu botol anggur dengan lima jam kerja dan satu roti dengan sepuluh jam kerja. Sementara itu, pekerja di Richland lebih produktif, sehingga dapat memproduksi satu botol anggur dengan tiga jam kerja dan satu roti dengan satu jam kerja.
Secara sekilas, mungkin tampak bahwa Richland,
yang membutuhkan lebih sedikit jam kerja untuk memproduksi kedua barang
tersebut, tidak akan mendapatkan keuntungan dari perdagangan. Namun, jika
dianalisis lebih lanjut, Poorland sebenarnya memiliki keunggulan
komparatif dalam produksi anggur. Hal ini karena, meskipun biaya produksi
anggur di Poorland lebih tinggi dalam hal jam kerja dibandingkan Richland,
biaya relatifnya lebih rendah dalam hal roti. Untuk setiap botol anggur yang
diproduksi, Poorland hanya mengorbankan setengah roti, sementara Richland
harus mengorbankan tiga roti untuk menghasilkan satu botol anggur. Oleh karena
itu, Poorland memiliki keunggulan komparatif dalam produksi anggur.
Sebaliknya, untuk setiap roti yang diproduksi, Poorland
harus mengorbankan dua botol anggur, sementara Richland hanya
mengorbankan sepertiga botol anggur. Dengan demikian, Richland memiliki
keunggulan komparatif dalam produksi roti.
Jika Poorland dan Richland menukar
anggur dan roti dalam rasio satu banding satu, Poorland dapat berfokus
pada produksi anggur dan menukarkan sebagian hasilnya dengan Richland,
sementara Richland dapat berspesialisasi dalam produksi roti. Dengan
mekanisme ini, kedua negara akan memperoleh manfaat yang lebih besar
dibandingkan jika mereka tidak melakukan perdagangan.
Sebagai contoh, jika Poorland mengalihkan
sepuluh jam tenaga kerja dari produksi roti, maka negara tersebut akan
kehilangan satu roti yang seharusnya dapat diproduksi oleh tenaga kerja
tersebut. Namun, dengan tenaga kerja yang dialihkan, Poorland dapat
menghasilkan dua botol anggur, yang kemudian ditukar dengan dua roti dari Richland.
Hasilnya, Poorland memperoleh tambahan satu roti dibandingkan dengan
skenario tanpa perdagangan.
Keuntungan yang diperoleh Poorland tidak terjadi dengan mengorbankan Richland. Richland juga memperoleh manfaat dari perdagangan ini, karena jika tidak, negara tersebut tidak akan melakukan perdagangan. Dengan mengalihkan tiga jam tenaga kerja dari produksi anggur, Richland kehilangan satu botol anggur, tetapi produksi rotinya meningkat sebanyak tiga roti. Dua dari tiga roti ini kemudian ditukar dengan dua botol anggur dari Poorland. Akibatnya, Richland memiliki satu botol anggur lebih banyak dari sebelumnya, serta memperoleh satu roti tambahan.
Ricardo mencatat bahwa keuntungan ini muncul karena
setiap negara berspesialisasi dalam produksi barang yang memiliki biaya
komparatif lebih rendah. Menariknya, Ricardo mampu menyimpulkan konsep ini
tanpa menggunakan alat matematika yang saat ini dianggap esensial dalam ekonomi
modern. Seabad sebelum Paul Samuelson dan ekonom lainnya mempopulerkan
penggunaan persamaan matematis dalam analisis ekonomi, Ricardo telah mencapai
kesimpulan kompleks hanya dengan logika deduktif. Ekonom David Friedman
menggambarkan pencapaian Ricardo dalam bukunya Price Theory (1990)
dengan perumpamaan bahwa seorang ekonom modern yang membaca Principles
karya Ricardo akan merasa seperti seorang pendaki gunung yang, setelah tiba di
puncak Everest, mendapati seorang pejalan kaki dengan kaos dan sepatu tenis
telah sampai di sana lebih dulu.[1]
Salah satu kontribusi utama Ricardo, yang dirumuskan
tanpa bantuan alat matematis, adalah teorinya tentang sewa (rent theory).
Mengadaptasi gagasan dari Thomas Malthus—seorang ekonom yang sering
berseberangan dengannya—Ricardo menjelaskan bahwa seiring dengan bertambahnya
lahan yang dikultivasi, para petani harus mulai menggunakan lahan yang kurang
produktif. Namun, karena harga satu bushel jagung dari lahan yang kurang
produktif sama dengan harga jagung dari lahan yang lebih produktif, petani
penyewa (tenant farmers) akan bersedia membayar lebih mahal untuk
menyewa lahan yang lebih produktif. Akibatnya, bukan petani penyewa yang
mendapatkan keuntungan dari produktivitas tanah, melainkan pemilik lahan yang
menerima sewa lebih tinggi.
Temuan ini tetap relevan hingga saat ini. Para ekonom
masih menggunakan pemikiran Ricardo untuk menjelaskan mengapa kebijakan subsidi
harga pertanian tidak serta-merta menguntungkan petani, tetapi justru
meningkatkan kekayaan para pemilik lahan pertanian. Prinsip serupa juga
digunakan untuk menganalisis dampak regulasi terhadap industri lain, seperti
pembatasan jumlah taksi. Dalam kasus ini, penerima manfaat utama dari kebijakan
pembatasan bukanlah para pengemudi taksi, melainkan individu atau perusahaan yang
telah memiliki medali taksi (taxi medallions atau lisensi taksi) pada
saat pembatasan diberlakukan.
Info lebih lanjut Anda dapat mengirimkan ke kami persoalan Hukum Anda melalui: Link di sini. atau melalui surat eletronik kami secara langsung: lawyerpontianak@gmail.com atau langsung ke nomor kantor Hukum Eka Kurnia yang ada di sini. Terima Kasih.
[1] David D. Friedman, “Price Theory:
An Intermediate Text, 2d ed.”, (Cincinnati: South-Western Publishing,
1990), 618.